Tag Archive for: SDGs3

Sabet Juara 3 Anchor Hunt, Buktikan Ahli Kesehatan Masyarakat Juga Harus Piawai Public Speaking

Yogyakarta,10 Juli 2026 — Shofiyyah Adilah, mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat (Master of Public Health/MPH), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), berhasil meraih Juara 3 pada kompetisi Anchor Hunt yang digelar dalam rangkaian program “Indonesia Punya Kamu: Connecting Generations”. Dalam ajang tersebut, Shofiyyah membawa pulang penghargaan luar biasa setelah menunjukkan kemampuan public speaking dan membawakan acara di atas panggung.

Prestasi ini menjadi capaian yang menarik perhatian, mengingat kompetisi Anchor Hunt umumnya diikuti oleh peserta dengan latar belakang komunikasi maupun penyiaran, sementara Shofiyyah berasal dari program studi kesehatan masyarakat. Baginya, keikutsertaan dalam kompetisi ini bukan hal baru. Sejak menempuh pendidikan S1, ia telah aktif mengikuti berbagai kompetisi news anchor, master of ceremony (MC), dan pidato. Saat melanjutkan studi S2 di Program MPH UGM, Shofiyyah kembali menantang dirinya dengan mengikuti Anchor Hunt dan berhasil menjadi juara.

“Penghargaan ini menjadi validasi bahwa mahasiswa kesehatan masyarakat juga mampu bersaing di ranah komunikasi publik,” ujar Shofiyyah menanggapi pencapaiannya tersebut.

Public Speaking, Keterampilan Penting bagi Ahli Kesehatan Masyarakat

Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat FKKMK UGM menjadikan kisah Shofiyyah sebagai pengingat pentingnya kemampuan public speaking bagi lulusan kesehatan masyarakat. Promosi kesehatan, menurut program studi, bukan sekadar membuat poster maupun menyebarkan informasi, melainkan membutuhkan kemampuan menyampaikan pesan agar dapat dipahami, dipercaya, dan pada akhirnya dilakukan oleh masyarakat. Komunikasi disebut sebagai inti dari perubahan perilaku, sementara riset dan data yang dihasilkan tidak akan memberi dampak apabila hanya berhenti di jurnal atau laporan tanpa diterjemahkan menjadi pesan yang relevan, menarik, dan mudah dipahami publik.

Sejalan dengan hal tersebut, program studi menekankan bahwa tenaga kesehatan masyarakat masa depan perlu dibekali sejumlah kompetensi komunikasi, di antaranya:

Komunikasi, Negosiasi, Advokasi dan Komunikasi digital

Kompetensi tersebut dinilai semakin penting di tengah era media sosial dan banjir informasi saat ini, di mana kemampuan menyampaikan pesan kesehatan secara efektif menjadi kunci keberhasilan program-program kesehatan masyarakat.

Ruang Pengembangan Komunikasi di Program MPH UGM

Untuk mendukung penguatan kemampuan komunikasi mahasiswanya, Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat UGM menyediakan sejumlah wadah pengembangan, di antaranya perkuliahan strategi komunikasi kesehatan, sesi presentasi dan diskusi interaktif, hingga kompetisi komunikasi riset melalui Research Talk in Three Minutes (RESTART) dan UGM Public Health Symposium (PHS), yang didukung oleh lingkungan akademik yang suportif bagi mahasiswa untuk terus mengasah kemampuannya, baik di bidang riset maupun komunikasi publik.

Melalui capaian yang diraih Shofiyyah Adilah ini, program studi berharap semakin banyak mahasiswa kesehatan masyarakat yang terdorong untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan public speaking, sehingga riset serta gagasan yang dihasilkan dapat lebih mudah tersampaikan dan memberikan dampak nyata bagi perubahan perilaku kesehatan di masyarakat.
Penulis: M. Ilham Gibran
Editing: Nanda Melania

Narahubung: Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, FKKMK UGM — ph.fkkmk.ugm.ac.id | Instagram @publichealthugm | Twitter/X @s2ikm_ugm | Facebook Magister IKM UGM

Dua Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat UGM Raih Session Best Presentation Award di GLOBEHEAL 2026

Bali, 13 Februari 2026 — Dua mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat (MKM), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Utari Woro Hanjaya dan Yusli Harini, berhasil meraih Session Best Presentation Award pada ajang The 9th International Conference on Global Public Health atau GLOBEHEAL 2026. Penghargaan ini diperoleh keduanya setelah tampil sebagai presenter dalam sesi ilmiah internasional yang diselenggarakan di Bali, 12–13 Februari 2026, oleh The International Institute of Knowledge Management (TIIKM).
GLOBEHEAL 2026 merupakan forum ilmiah internasional yang mempertemukan akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi kesehatan dari berbagai negara untuk merespons tantangan kesehatan global secara kolaboratif. Konferensi tahun ini mengusung tema “Positive Responses to Global Public Health: Challenges and Solutions”. Dalam forum tersebut, mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat UGM turut berpartisipasi aktif sebagai presenter dalam sesi ilmiah internasional dan berhasil meraih apresiasi pada tingkat sesi.
Utari Woro Hanjaya: Evaluasi Program PMT Lokal di Kabupaten Pekalongan
Utari Woro Hanjaya, mahasiswa Minat Gizi dan Kesehatan, meraih penghargaan pada sesi Maternal, Child, and Adolescent Health melalui presentasi penelitian berjudul “Evaluation of the Local Food Supplementation Program (PMT Lokal) in Pekalongan Regency: Effects on Dietary Diversity, Weight, and Nutrient Intake among 1–3 Years Old Children.” Penelitian ini mengevaluasi efektivitas program PMT Lokal dalam meningkatkan keberagaman konsumsi dan asupan zat gizi anak usia 1–3 tahun di wilayah dengan prevalensi wasting tinggi, menggunakan desain quasi-experimental pretest–posttest dan analisis Difference-in-Differences (DID) yang membandingkan kelompok penerima intervensi dan kontrol selama April–Juni 2025.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada Dietary Diversity Score (DDS), asupan energi, dan asupan karbohidrat pada kelompok intervensi. Namun, peningkatan asupan protein dan berat badan belum menunjukkan perbedaan bermakna, yang mengindikasikan perlunya perbaikan formulasi resep berbasis pangan lokal serta penguatan kapasitas tenaga kesehatan dalam konseling gizi. Temuan ini diharapkan menjadi dasar berbasis bukti untuk optimalisasi program suplementasi pangan lokal dalam mendukung percepatan penurunan wasting dan stunting di tingkat daerah.
Yusli Harini: Dampak Awal Intervensi Wolbachia terhadap Kasus DBD di Kabupaten Bantul
Sementara itu, Yusli Harini, mahasiswa Minat Field Epidemiology Training Program (FETP), meraih penghargaan pada sesi Innovations in Public Health and Digital Healthcare melalui presentasi penelitian berjudul “Preliminary Evidence of Dengue Case Reduction Following Wolbachia Intervention in Bantul District, Indonesia.” Penelitian ini mengevaluasi dampak awal intervensi Wolbachia yang diperkenalkan pada tahun 2022 di 38 desa di Kabupaten Bantul sebagai strategi tambahan pengendalian vektor dengue, menggunakan desain ekologis before–after berbasis data surveilans sekunder dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul yang membandingkan jumlah kasus sebelum (2022) dan setelah intervensi (2024).
Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan signifikan rata-rata kasus DBD pada desa intervensi (mean -10,58; p<0,001), sementara desa non-intervensi justru mengalami peningkatan kasus. Selain itu, terjadi pergeseran dominasi beban kasus, yakni desa yang sebelumnya termasuk dalam 10 besar kasus tertinggi pada 2022 tidak lagi mendominasi pada 2024. Temuan ini memberikan sinyal awal efektivitas Wolbachia sebagai inovasi pengendalian biologis dengue di tingkat kabupaten, sekaligus menjadi dasar penting bagi penguatan kebijakan dan penelitian lanjutan dengan desain yang lebih komprehensif.
Capaian kedua mahasiswa ini menegaskan kapasitas mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat UGM dalam menghasilkan riset yang unggul, inovatif, dan relevan terhadap tantangan kesehatan global. Pihak program studi menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kontribusi akademik yang membanggakan tersebut di forum internasional.
Prestasi di GLOBEHEAL 2026 ini membuktikan bahwa mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat UGM mampu bersaing dan berkontribusi di panggung global melalui riset yang berdampak nyata. Capaian ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh mahasiswa untuk terus berani berkarya, berinovasi, dan membawa solusi kesehatan masyarakat ke level internasional.
Penulis: M.Ilham Gibran
Editing: Nanda Melania

Narahubung: Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, FKKMK UGM — ph.fkkmk.ugm.ac.id | Instagram @publichealthugm | Twitter/X @s2ikm_ugm | Facebook Magister IKM UGM

UGM Jadi Tuan Rumah Distance/Blended Learning Workshop, Perkuat Pembelajaran Kesehatan Berbasis A.I.

Yogyakarta, 10 Juli 2026 – FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Distance/Blended Learning Workshop yang berlangsung secara tatap muka pada 6–10 Juli 2026 di Pandawa Room, The Phoenix Hotel Yogyakarta. Lokakarya bertaraf internasional ini merupakan edisi keempat dari rangkaian pelatihan pembelajaran bauran (blended learning) dengan integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mengusung tema “Get Started, Keep Moving”. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas para pengajar bidang kesehatan dalam merancang, mengembangkan, dan menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh serta pembelajaran bauran yang berkualitas.
Lokakarya ini terdiri atas dua komponen yang saling terhubung, yaitu komponen daring yang telah berlangsung pada 2 Februari hingga 15 Maret 2026 dan komponen tatap muka yang diselenggarakan pada 6–10 Juli 2026 di Yogyakarta. Kegiatan diselenggarakan atas kerjasama sejumlah institusi lintas negara, yakni Institute of Tropical Medicine (ITM) Antwerp, Belgia; Center for Tropical Medicine UGM; Institute of Public Health Bengaluru, India; serta National Rural Health Training and Research Centre Maférinya, Guinea-Conakry. Pada pembukaan kegiatan, Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, menyampaikan sambutan selamat datang yang menegaskan komitmen UGM dalam pengembangan pendidikan kesehatan berbasis teknologi.
Lokakarya diikuti oleh sembilan pasang peserta yang berasal dari berbagai institusi pendidikan dan kesehatan di kawasan Afrika dan Asia. Setiap pasang peserta mengembangkan proyek rancangan mata kuliah daring sesuai bidang keahliannya, mulai dari imunologi dan penerimaan vaksin, pencegahan dan pengendalian tuberkulosis, metode penelitian kuantitatif, epidemiologi, hingga peresepan antibiotik yang rasional. Indonesia diwakili oleh staf pengajar dan tenaga kependidikan FK-KMK UGM dari Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Departemen Biostatistics Epidemiology and Population Health (BEPH), yaitu dr. Ahmad Watsiq Maula, MPH dan Vivin Fitriana, SKM., MPH yang mengembangkan mata kuliah “Epidemiology 2 – Blended Learning”, serta dr. Risalia Reni Arisanti, MPH sebagai Subject Matter Expert. Selain sebagai peserta, Ketua Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM, dr. Riris Andono Ahmad, MPH., PhD., juga berperan sebagai fasilitator kegiatan bersama dengan Malida Magista yang juga turut membimbing jalannya kegiatan.
Selama sepekan, peserta menjalani serangkaian tugas praktik (hands-on) yang menjadi inti dari lokakarya. Pada tugas pertama, peserta mempresentasikan proposal rancangan mata kuliah e-learning dengan menerapkan pendekatan backwards design serta metode ABC blended learning untuk merancang aktivitas pembelajaran dan penilaian. Tugas kedua mengarahkan peserta merancang dan merekam video pembelajaran interaktif yang dilengkapi interaksi bagi pembelajar. Pada tugas ketiga, peserta menghasilkan transkrip video sekaligus menyusun penilaian mandiri (self-assessment) formatif berbantuan AI dengan memperhatikan kualitas, validitas, dan keadilan butir soal. Adapun tugas keempat berfokus pada penataan dan pengelolaan sistem manajemen pembelajaran (Learning Management System) menggunakan Moodle.
Integrasi kecerdasan buatan menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh rangkaian kegiatan. Peserta dilatih memanfaatkan AI untuk menyusun skenario dan naskah video, membuat butir penilaian mandiri, serta menghasilkan aktivitas pembelajaran. Sepanjang lokakarya, peserta juga secara berkelanjutan berlatih merancang perintah (prompt design) dan melakukan refleksi kritis terhadap luaran yang diberikan oleh AI, sehingga teknologi ditempatkan sebagai alat bantu yang tetap mengutamakan kualitas pembelajaran dan peran pengajar. Rangkaian kegiatan ditutup dengan presentasi proyek akhir tiap kelompok serta diskusi bertema pelatihan di era kecerdasan buatan.
Penyelenggaraan lokakarya ini memberikan nilai tambah yang signifikan bagi tenaga pengajar dari UGM, khususnya Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat FK-KMK. Sebagai tuan rumah, UGM memperkuat posisinya sebagai pusat pengembangan kapasitas pendidikan kesehatan bertaraf internasional sekaligus memperluas jejaring kerjasama akademik lintas benua. Keterlibatan staf pengajar Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat dari Departemen Biostatistics, Epidemiology, and Population Health (BEPH) FK-KMK sebagai peserta maupun fasilitator turut mendorong peningkatan mutu pembelajaran, penguatan kompetensi digital dosen, serta pengembangan mata kuliah berbasis blended learning yang dapat diterapkan langsung dalam proses pendidikan di lingkungan universitas.
Kegiatan ini sejalan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Lokakarya mendukung SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan mutu perancangan pembelajaran dan pemanfaatan teknologi pendidikan secara inklusif. SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera turut didukung melalui penguatan kapasitas tenaga pendidik bidang kesehatan yang berperan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia kesehatan. Selain itu, kegiatan ini mendorong SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pemanfaatan kecerdasan buatan dan platform pembelajaran digital, serta memperkuat SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan dengan membuka akses pendidikan berkualitas bagi pengajar dari berbagai negara dengan sumber daya terbatas. Kolaborasi lintas negara dan lintas institusi yang menjadi ciri kegiatan ini juga mencerminkan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis: Nofathana Saputra

Public Health Symposium ke-16 UGM Bahas Peran AI dalam Pendidikan Kesehatan Masyarakat

Yogyakarta, 3 Juli 2026 — Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), kembali menyelenggarakan Public Health Symposium, agenda tahunan yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-16. Mengusung tema “Improving Public Health through Innovative Education Approach: The Use of AI and Other Innovation”, kegiatan berlangsung selama dua hari secara hybrid dan diikuti lebih dari 100 peserta yang mengirimkan abstrak penelitian, mulai dari mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat UGM, mahasiswa dari perguruan tinggi lain, hingga perwakilan instansi kesehatan pemerintahan.

Simposium ini diselenggarakan sebagai wadah bagi mahasiswa dan dosen untuk memaparkan hasil serta ide penelitian di bidang kesehatan masyarakat, sekaligus mendorong kontribusi berkelanjutan dalam riset dan inovasi pendidikan kesehatan.

Hari Pertama: Presentasi Abstrak

Pada hari pertama, seluruh peserta memaparkan hasil penelitiannya dalam sesi presentasi abstrak yang terbagi ke dalam 16 subtema, di antaranya epidemiologi, kesehatan masyarakat, systematic review, kesehatan lingkungan, hingga kebijakan dan manajemen kesehatan (health policy and management). Sesi ini menghadirkan beragam ide dan temuan penelitian yang menarik untuk diikuti oleh para peserta.

Hari Kedua: Research Update dan Sesi Panel

Memasuki hari kedua, kegiatan diisi dengan sesi research update yang menghadirkan sejumlah dosen, baik dari Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat maupun dari Program Studi Gizi dan Kebijakan Kesehatan (Health Policy and Management) UGM. Selain menyampaikan tanggapan atas abstrak yang dikirimkan peserta, para narasumber pada sesi ini turut memaparkan hasil-hasil penelitian dan temuan terbaru di bidangnya masing-masing.

Sesi yang paling dinantikan peserta pada hari kedua adalah sesi panel yang mengangkat pembahasan mengenai peran kecerdasan buatan (AI) dalam dunia kesehatan. Sesi ini menghadirkan lima narasumber utama, yaitu:

Dr. Ariyanto Nugroho, SKM., M.Sc. — Topik: “The Future of Public Health Profession: Adapting to AI and Digital Innovations in Health Education”

Perwakilan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

 

Dr.Agr.Sc. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU, ASEAN Eng. — Topik: “Integrating Technological Innovations into Higher Education Curricula for Health Sciences”

Perwakilan Pusat Inovasi dan Kajian Akademik (PIKA) UGM

 

Anis Fuad, S.Ked, DEA — Topik: “Training Future Public Health Specialists: Leveraging AI and Big Data in Public Health Education”

Dosen  Magister Kesehatan Masyarakat FKKMK UGM

 

Ari Prayogo Pribadi, S.T., M.T., Ph.D. — Topik: “Evidence-Based Applications of AI in Public Health Interventions and Community Education”

Dosen  Magister Kesehatan Masyarakat FKKMK UGM

 

Prof. Huan Nguyen — Topik: “Leveraging Digital Twins for Advanced Epidemiological Education”

Middlesex University London

Pembahasan mengenai pemanfaatan AI bagi dunia kesehatan dalam sesi panel ini mendapat animo yang tinggi dari peserta, baik dari kalangan mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat UGM, mahasiswa dari kampus lain, maupun perwakilan instansi kesehatan pemerintahan yang turut hadir.

Melalui Public Health Symposium ke-16 ini, Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat FKKMK UGM berharap dapat terus mengasah keterampilan mahasiswa dan dosen dalam memaparkan hasil serta ide penelitian, sekaligus mendorong kontribusi yang berkelanjutan dalam pengembangan riset dan inovasi pendidikan di bidang kesehatan masyarakat.

Penulis: Nanda Melania

Narahubung: Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, FKKMK UGM — ph.fkkmk.ugm.ac.id | Instagram @publichealthugm | Twitter/X @s2ikm_ugm | Facebook Magister IKM UGM

 

 

Mahasiswa Public Health UGM Berbagi Tips Lolos Beasiswa Unggulan

Yogyakarta, 25 Mei 2026 — Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), menyelenggarakan talkshow bertajuk “Sosialisasi Beasiswa Unggulan 2026” secara daring melalui Zoom Meeting, Senin (25/5/2026), pukul 14.00–15.30 WIB. Kegiatan yang mengangkat tema “Beyond GPA: Unlocking the Secrets to Winning Indonesia’s Outstanding Scholarship” ini menghadirkan empat mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat (MPH) UGM yang merupakan penerima Beasiswa Unggulan sebagai narasumber, untuk berbagi tips dan strategi lolos seleksi beasiswa tersebut.

Keempat narasumber yang tampil dalam sesi ini adalah Fawwiz Aulya Amin, Dinar Annasta Naja Mayra, Boniy Taufiqurrahman, dan Lintang Aryanti. Mereka membagikan pengalaman langsung dalam proses seleksi Beasiswa Unggulan, mulai dari persiapan dokumen administrasi, penyusunan curriculum vitae (CV), penulisan dokumen pendukung, hingga tahapan wawancara.

Talkshow ini diselenggarakan sebagai bentuk dukungan bagi mahasiswa dan masyarakat umum yang ingin mempersiapkan diri mengikuti seleksi beasiswa unggulan. Tingginya minat terhadap program beasiswa selama ini kerap tidak diimbangi dengan pemahaman yang memadai mengenai strategi persiapan seleksi. Banyak calon pendaftar masih kebingungan mengenai dokumen apa saja yang perlu disiapkan, bagaimana menampilkan pengalaman yang relevan dan kompetitif dalam CV, serta bagaimana membangun personal branding yang kuat di hadapan reviewer maupun pewawancara. Proses wawancara pun kerap menjadi tantangan tersendiri karena menuntut kemampuan komunikasi, kepercayaan diri, serta pemahaman terhadap tujuan studi dan kontribusi di masa depan.

Melalui sesi tersebut, sejumlah tujuan ingin dicapai penyelenggara, di antaranya memberikan pemahaman mengenai tahapan seleksi beasiswa unggulan, membantu peserta mempersiapkan dokumen administrasi dan CV yang kompetitif, memberikan wawasan mengenai strategi personal branding dan cara menonjolkan pengalaman dalam CV, membekali peserta dengan tips dan trik menghadapi wawancara beasiswa, serta mendorong interaksi aktif antara peserta dan narasumber melalui sesi diskusi dan tanya jawab.

Kegiatan yang ditujukan bagi mahasiswa S1, mahasiswa tingkat akhir, fresh graduate, serta masyarakat umum yang berminat melanjutkan studi melalui program beasiswa unggulan ini diikuti oleh sekitar 200 peserta melalui Zoom Meeting. Antusiasme peserta terlihat dari tingginya interaksi selama sesi berlangsung, ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan audiens kepada para narasumber terkait persiapan dan strategi lolos Beasiswa Unggulan.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu memahami langkah-langkah strategis dalam mempersiapkan diri menghadapi seleksi beasiswa, serta memperoleh wawasan praktis dan motivasi untuk meningkatkan kualitas berkas maupun kemampuan personal mereka dalam meraih Beasiswa Unggulan 2026. Kegiatan ini juga diharapkan dapat mendorong peserta untuk mencoba mendaftar Beasiswa Unggulan, dengan harapan Program Magister Kesehatan Masyarakat UGM dapat menjadi salah satu tujuan studi lanjut mereka.

Penulis: Nanda Melania

Narahubung: Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, FKKMK UGM — ph.fkkmk.ugm.ac.id | Instagram @publichealthugm | Twitter/X @s2ikm_ugm | Facebook Magister IKM UGM

Magister Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM Sukses Gelar Public Health Symposium ke-14: Soroti Integritas Etika dalam Program dan Riset Kesehatan

Yogyakarta, 15 Mei 2025 — Program Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada kembali menunjukkan konsistensinya dalam mendukung pengembangan ilmu dan praktik kesehatan masyarakat melalui penyelenggaraan Public Health Symposium (PHS) ke-14. Kegiatan ini digelar pada 14–15 Mei 2025 di Gedung Ilmu Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM, dan tahun ini mengangkat tema “Strengthening Ethical Integrity in Public Health Programs and Research.”

Tema ini dipilih sebagai respons terhadap semakin kompleksnya tantangan dalam dunia kesehatan masyarakat, di mana aspek etika memegang peranan sentral dalam merancang, melaksanakan, serta mengevaluasi program dan riset. Simposium ini menjadi ruang penting untuk mendiskusikan bagaimana nilai-nilai etika dapat diterapkan secara konkret dalam berbagai konteks lokal maupun global.

PHS ke-14 berhasil menarik perhatian luas dari kalangan akademisi, peneliti, mahasiswa, dan praktisi kesehatan masyarakat. Tercatat lebih dari 90 abstrak ilmiah diterima oleh panitia, mencerminkan tingginya antusiasme dan kepedulian terhadap isu-isu strategis dalam dunia kesehatan. Tidak hanya dari lingkungan UGM, para pengirim abstrak dan peserta simposium juga berasal dari berbagai universitas dan institusi di luar UGM, termasuk dari wilayah-wilayah lain di Indonesia.

Seluruh abstrak yang masuk telah melalui proses seleksi yang ketat oleh tim reviewer yang kompeten. Seleksi ini tidak hanya mempertimbangkan orisinalitas ide dan kekuatan metodologi, tetapi juga sejauh mana penelitian yang diajukan dapat memberikan kontribusi pada penguatan praktik kesehatan masyarakat yang beretika. Seperti tahun-tahun sebelumnya, simposium ini juga akan menobatkan beberapa abstrak terbaik yang dinilai paling unggul dan relevan.

Selama dua hari pelaksanaan, peserta disuguhi rangkaian sesi paralel yang membahas berbagai topik terkait dengan kebijakan kesehatan, epidemiologi, promosi kesehatan, manajemen layanan kesehatan, hingga riset kesehatan berbasis komunitas. Sesi-sesi ini tidak hanya menjadi forum berbagi pengetahuan, tetapi juga mendorong kolaborasi lintas institusi dan membuka peluang kerja sama riset ke depan.

Penyelenggaraan PHS ke-14 ini memperkuat peran Program Magister Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM sebagai pelopor dalam menciptakan ruang dialog akademik dan praktik yang terbuka, inklusif, dan berintegritas. Kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa serta praktisi dalam merancang intervensi dan penelitian yang tidak hanya berbasis bukti, tetapi juga menjunjung tinggi prinsip-prinsip etika.

Dengan semakin berkembangnya tantangan dalam dunia kesehatan masyarakat, PHS ke-14 menjadi pengingat penting bahwa ilmu dan etika harus berjalan beriringan demi mewujudkan pelayanan kesehatan yang adil, transparan, dan bertanggung jawab bagi masyarakat luas.

Penulis: Nanda Melania D.

Dosen Magister Kesehatan Masyarakat Isi Annual Training Pascasymposium Kesehatan Masyarakat

Yogyakarta, 17 Mei 2025 — Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi (BEPH) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM kembali menyelenggarakan kegiatan Annual Training sebagai rangkaian lanjutan dari Public Health Symposium (PHS). Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, pada 16–17 Mei 2025, bertempat di Gedung Ilmu Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, peserta annual training kali ini tidak hanya berasal dari lingkungan FK-KMK UGM, namun juga melibatkan peserta dari berbagai instansi di luar UGM. Hal ini menunjukkan antusiasme dan kebutuhan yang besar dari berbagai kalangan terhadap pelatihan yang ditawarkan.

Tahun ini, Annual Training mengusung dua topik utama yang dirancang untuk mendukung pengembangan kapasitas mahasiswa dan profesional di bidang kesehatan masyarakat, khususnya mereka yang juga aktif bekerja. Topik pertama adalah “Introduction to R for Health Data Analysis” yang dibawakan oleh dr. Ahmad Watsiq Maula, MPH. Sesi ini membekali peserta dengan kemampuan dasar dalam menggunakan perangkat lunak R untuk analisis data kesehatan, yang semakin banyak digunakan dalam riset dan praktik kesehatan masyarakat.

Topik kedua adalah “Systematic Review and Meta-Analysis” yang disampaikan oleh Bayu Satria Wiratama, S.Ked., MPH., Ph.D., dan M. Syairaji, SKM., MPH. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang metode kajian pustaka sistematis dan meta-analisis, yang menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan berbasis bukti di dunia kesehatan.

Dr. Bayu Satria menyampaikan bahwa kegiatan seperti Annual Training ini sangat penting, khususnya bagi mahasiswa yang juga berkarier di luar kampus. “Melalui pelatihan seperti ini, kami berharap peserta tidak hanya mampu meningkatkan kapasitas mereka secara teknis, tetapi juga mampu menyebarkan ilmu yang diperoleh ke ranah yang lebih luas lagi,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa apabila terdapat kebutuhan akan pelatihan serupa di masa mendatang, para peserta atau institusi dapat langsung menghubungi kontak person Departemen BEPH.

Kegiatan Annual Training ini menjadi bagian dari komitmen FK-KMK UGM dalam mendukung pembelajaran sepanjang hayat dan penguatan kapasitas profesional di bidang kesehatan masyarakat, baik dari kalangan akademisi maupun praktisi.

Penulis: Nanda Melania D.

Photovoice sebagai Jembatan Inklusivitas bagi ODHA dan Populasi Kunci: Seminar Rabuan Departemen BEPH FK-KMK UGM

Yogyakarta, 19 Maret 2025 — Upaya membangun masyarakat yang inklusif terhadap Orang dengan HIV (ODHIV) kembali menjadi perhatian dalam Seminar Rabuan yang diselenggarakan oleh Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi (BEPH), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, Rabu (19/3/2025). Seminar bertajuk “Bagaimana Photovoice Membantu Masyarakat Inklusif Terhadap Orang Dengan HIV” ini menghadirkan Dr. Ami Kamila, S.ST., M.Kes sebagai narasumber dan dimoderatori oleh Widyawati, S.Kp., M.Kes., Ph.D.

Dalam sambutannya, Kepala Departemen BEPH, Dr. Mub, menekankan pentingnya membangun masyarakat yang inklusif dalam konteks kesehatan populasi. “Inklusivitas berarti tidak membedakan siapa yang menjadi bagian dari populasi. Semua berhak atas layanan dan perlindungan kesehatan, termasuk mereka yang hidup dengan HIV. Kesehatan adalah milik bersama, bukan hanya milik individu,” ujarnya.

Dr. Ami Kamila membagikan hasil penelitiannya mengenai photovoice, sebuah metode partisipatif yang memadukan foto dan narasi pribadi untuk menyuarakan pengalaman komunitas yang terstigma, khususnya ODHIV dan populasi kunci. Menurutnya, photovoice bukan hanya alat penelitian, tetapi juga merupakan intervensi sosial yang kuat.

“Photovoice memungkinkan populasi terdampak untuk mendokumentasikan pengalaman mereka sendiri, menyampaikan kisah mereka secara langsung kepada masyarakat dan tenaga kesehatan,” jelas Dr. Ami. Ia menambahkan bahwa metode ini membuka ruang dialog dan refleksi yang selama ini jarang terjadi dalam pendekatan medis konvensional. Dalam pameran virtual yang dirancang dari hasil penelitiannya, pengunjung tidak hanya melihat foto, tetapi juga mendengar langsung suara mereka yang kerap terpinggirkan.

Beberapa temuan yang ditampilkan dalam pameran menggambarkan kerasnya stigma yang dihadapi populasi kunci. Mulai dari diskriminasi dalam layanan kesehatan hingga penolakan oleh keluarga, masing-masing kisah yang terdokumentasi mengungkapkan realitas menyakitkan yang masih banyak terjadi di tengah masyarakat. Foto-foto seperti alat makan yang tak diberikan kepada pasien HIV, tangan penuh luka akibat kekerasan keluarga, hingga wajah-wajah yang kehilangan harapan menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan stigma masih jauh dari usai.

Dr. Ami menegaskan bahwa meski kemajuan medis telah memungkinkan pengobatan HIV berkembang pesat, tantangan besar tetap terletak pada target ketiga dari kampanye Three Zero: nol stigma dan diskriminasi. “Tanpa disadari, masyarakat—termasuk tenaga kesehatan—masih menjadi penghalang bagi ODHIV untuk mendapatkan hak kesehatan yang layak,” ungkapnya.

Hasil dari pameran photovoice menunjukkan adanya perubahan persepsi di kalangan pengunjung, yang mencakup tenaga kesehatan, mahasiswa, dan masyarakat umum. Sebagian besar partisipan mengaku lebih memahami dan lebih empatik setelah mengikuti pameran, bahkan menyatakan terkejut melihat bagaimana dalamnya dampak stigma yang dialami para penyintas HIV.

Diskusi juga membahas tantangan implementasi pendekatan serupa di Indonesia, termasuk pertanyaan dari peserta tentang bagaimana negara-negara lain menghadapi stigma terhadap HIV. Dr. Ami menjelaskan bahwa secara global sudah banyak kampanye seperti Three Zero, harm reduction, hingga edukasi publik melalui media. Namun, implementasinya di Indonesia masih menghadapi kendala besar, salah satunya adalah kurangnya ruang ekspresi dan masih minimnya dukungan multisektor.

“Photovoice membuka jalan untuk membangun empati yang lebih dalam dan mendekatkan masyarakat kepada realitas yang selama ini tersembunyi. Harapannya, pendekatan ini bisa terus diperluas dan didukung lintas sektor untuk membangun masyarakat yang lebih adil, empatik, dan benar-benar inklusif,” pungkas Dr. Ami.

Penulis: Nanda Melania D.

BBKK Soekarno Hatta Paparkan Pengalaman Penanganan Pandemi di Pintu Masuk Negara dalam Webinar FKKMK UGM

Yogyakarta, 16 April 2025 – Pandemi COVID-19 telah menjadi momen penting yang menguji kesiapan dan ketangguhan sistem kesehatan masyarakat global. Salah satu aspek yang krusial dalam respons terhadap pandemi adalah pengelolaan Points of Entry (PoE) atau pintu masuk negara, seperti bandara, pelabuhan, dan perbatasan darat. Isu ini menjadi pokok bahasan dalam webinar bertajuk “Manajemen Kekarantinaan Kesehatan di Pintu Masuk Negara: Pembelajaran dari Pandemi COVID-19 dan Kesiapan Menghadapi Ancaman Ke Depan” yang diselenggarakan secara daring oleh Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, FK-KMK UGM, pada 16 April 2025.

Webinar ini dimoderatori oleh dr. Vicka Oktaria, MPH, PhD, FSRPH dan menghadirkan pembicara utama Naning Nugraheni, SKM, MKM, perwakilan dari Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Soekarno Hatta. Dalam paparannya, Naning membagikan pengalaman BBKK dalam menghadapi pandemi, termasuk transformasi kelembagaan dari Kantor Kesehatan Pelabuhan menjadi BBKK sejak 1 Januari 2024.

BBKK Soekarno Hatta memiliki peran vital sebagai garda terdepan dalam mencegah masuk dan keluarnya penyakit menular melalui jalur transportasi udara. Saat pandemi COVID-19, BBKK menerapkan berbagai kebijakan dan protokol kesehatan, seperti penggunaan aplikasi ORE, pemeriksaan suhu tubuh, rapid test, PCR, serta skrining dan karantina di Wisma Atlet bagi pelaku perjalanan yang terdeteksi positif. Alur pengawasan juga mencakup validasi dokumen kesehatan dan pelaporan melalui sistem daring.

Naning menegaskan bahwa BBKK memiliki lima tim kerja dan sembilan instalasi penunjang yang menangani berbagai aspek, mulai dari surveilans, pengawasan alat angkut, hingga layanan vaksinasi internasional dan pengelolaan limbah medis. Selain itu, terdapat empat wilayah kerja (wilker) utama di Bandara Soekarno Hatta, termasuk Terminal 1, 2, 3, dan Bandara Halim Perdanakusuma, serta 15 titik pengawasan yang aktif saat pandemi.

Dalam konteks sejarah kekarantinaan, Naning menyoroti pentingnya kerangka hukum nasional dan internasional, seperti International Health Regulations (IHR) 2005 dan UU No. 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, yang menjadi dasar penanganan pandemi di Indonesia. Ia juga menekankan bahwa kesiapan Indonesia sudah dimulai sejak tahun 2008 melalui berbagai simulasi dan pelatihan.

“Pemikiran pemimpin kita sudah sangat maju dalam mempersiapkan sistem respons di pintu masuk negara,” ujarnya. “Kolaborasi dengan pemerintah daerah, dinas kesehatan, dan berbagai stakeholder menjadi kunci dalam mendeteksi, merespons, dan menanggulangi potensi penyebaran penyakit dari wilayah internasional ke domestik.”

Naning juga membahas tantangan pada masa transisi pandemi ke endemi, termasuk kebutuhan akan kebijakan yang fleksibel namun berbasis data, serta pentingnya interpretasi kebijakan yang konsisten di lapangan agar tidak menimbulkan potensi konflik.

Webinar ini menjadi refleksi penting terhadap pelajaran dari pandemi COVID-19, sekaligus mendorong diskusi mengenai kesiapan menghadapi ancaman kesehatan global di masa depan. Kegiatan ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), dengan memperkuat sistem ketahanan kesehatan melalui pendekatan lintas sektor dan berbasis bukti.

Enam Mahasiswa Swedia Lakukan Penelitian di UGM dalam Program Pertukaran Mahasiswa Non-Gelar

Yogyakarta, Maret 2025 – Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada kembali menerima mahasiswa asing dalam program Incoming Student Research Programme – Non-Degree. Pada semester ini, enam mahasiswa dari Swedia yang berasal dari Universitas Gothenburg (UGOT) dan Universitas Umeå menjalankan kegiatan penelitian di UGM selama dua bulan, yaitu Maret hingga April 2025.

Selama periode penelitian, para mahasiswa menggunakan data dari Sleman Health and Demographic Surveillance System (HDSS) serta Indonesia Family Life Survey (IFLS) sebagai sumber utama. Topik penelitian yang dikaji sangat beragam, mulai dari ketahanan pangan pada kelompok disabilitas dan kaitannya dengan kesehatan mental, hingga isu kehamilan, kesehatan reproduksi, dan cedera (injury). Selain melakukan pengambilan dan analisis data, para mahasiswa juga dijadwalkan mengunjungi berbagai fasilitas layanan kesehatan guna memperdalam pemahaman kontekstual terkait penelitian mereka.

Program ini merupakan bagian dari kolaborasi jangka panjang antara UGM, UGOT, dan Universitas Umeå dalam bidang kesehatan masyarakat. Di bawah bimbingan para dosen UGM, mahasiswa diharapkan mendapatkan pengalaman riset yang komprehensif sekaligus memperluas wawasan akademik mereka. Tak hanya itu, kehadiran mereka turut membuka ruang pertukaran ilmu, perspektif, dan pengalaman dengan mahasiswa serta sivitas akademika UGM.

Pelaksanaan program ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being), dengan memperkuat kapasitas riset di bidang kesehatan masyarakat, serta SDG 4 (Quality Education) melalui penyediaan pengalaman belajar lintas budaya. Selain itu, program ini turut berkontribusi pada SDG 17 (Partnerships for the Goals), dengan membangun kemitraan internasional yang berkelanjutan dalam bidang akademik dan penelitian.

Melalui program ini, diharapkan tercipta kolaborasi riset jangka panjang yang tidak hanya memperkaya pengalaman akademik para mahasiswa, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan solusi untuk tantangan kesehatan masyarakat, baik di tingkat lokal maupun global.

Penulis: Nanda Melania D. dan Zilfani Fuadiyah Haq