Sabet Juara 3 Anchor Hunt, Buktikan Ahli Kesehatan Masyarakat Juga Harus Piawai Public Speaking

Yogyakarta,10 Juli 2026 — Shofiyyah Adilah, mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat (Master of Public Health/MPH), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), berhasil meraih Juara 3 pada kompetisi Anchor Hunt yang digelar dalam rangkaian program “Indonesia Punya Kamu: Connecting Generations”. Dalam ajang tersebut, Shofiyyah membawa pulang penghargaan luar biasa setelah menunjukkan kemampuan public speaking dan membawakan acara di atas panggung.

Prestasi ini menjadi capaian yang menarik perhatian, mengingat kompetisi Anchor Hunt umumnya diikuti oleh peserta dengan latar belakang komunikasi maupun penyiaran, sementara Shofiyyah berasal dari program studi kesehatan masyarakat. Baginya, keikutsertaan dalam kompetisi ini bukan hal baru. Sejak menempuh pendidikan S1, ia telah aktif mengikuti berbagai kompetisi news anchor, master of ceremony (MC), dan pidato. Saat melanjutkan studi S2 di Program MPH UGM, Shofiyyah kembali menantang dirinya dengan mengikuti Anchor Hunt dan berhasil menjadi juara.

“Penghargaan ini menjadi validasi bahwa mahasiswa kesehatan masyarakat juga mampu bersaing di ranah komunikasi publik,” ujar Shofiyyah menanggapi pencapaiannya tersebut.

Public Speaking, Keterampilan Penting bagi Ahli Kesehatan Masyarakat

Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat FKKMK UGM menjadikan kisah Shofiyyah sebagai pengingat pentingnya kemampuan public speaking bagi lulusan kesehatan masyarakat. Promosi kesehatan, menurut program studi, bukan sekadar membuat poster maupun menyebarkan informasi, melainkan membutuhkan kemampuan menyampaikan pesan agar dapat dipahami, dipercaya, dan pada akhirnya dilakukan oleh masyarakat. Komunikasi disebut sebagai inti dari perubahan perilaku, sementara riset dan data yang dihasilkan tidak akan memberi dampak apabila hanya berhenti di jurnal atau laporan tanpa diterjemahkan menjadi pesan yang relevan, menarik, dan mudah dipahami publik.

Sejalan dengan hal tersebut, program studi menekankan bahwa tenaga kesehatan masyarakat masa depan perlu dibekali sejumlah kompetensi komunikasi, di antaranya:

Komunikasi, Negosiasi, Advokasi dan Komunikasi digital

Kompetensi tersebut dinilai semakin penting di tengah era media sosial dan banjir informasi saat ini, di mana kemampuan menyampaikan pesan kesehatan secara efektif menjadi kunci keberhasilan program-program kesehatan masyarakat.

Ruang Pengembangan Komunikasi di Program MPH UGM

Untuk mendukung penguatan kemampuan komunikasi mahasiswanya, Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat UGM menyediakan sejumlah wadah pengembangan, di antaranya perkuliahan strategi komunikasi kesehatan, sesi presentasi dan diskusi interaktif, hingga kompetisi komunikasi riset melalui Research Talk in Three Minutes (RESTART) dan UGM Public Health Symposium (PHS), yang didukung oleh lingkungan akademik yang suportif bagi mahasiswa untuk terus mengasah kemampuannya, baik di bidang riset maupun komunikasi publik.

Melalui capaian yang diraih Shofiyyah Adilah ini, program studi berharap semakin banyak mahasiswa kesehatan masyarakat yang terdorong untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan public speaking, sehingga riset serta gagasan yang dihasilkan dapat lebih mudah tersampaikan dan memberikan dampak nyata bagi perubahan perilaku kesehatan di masyarakat.
Penulis: M. Ilham Gibran
Editing: Nanda Melania

Narahubung: Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, FKKMK UGM — ph.fkkmk.ugm.ac.id | Instagram @publichealthugm | Twitter/X @s2ikm_ugm | Facebook Magister IKM UGM

Dua Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat UGM Raih Session Best Presentation Award di GLOBEHEAL 2026

Bali, 13 Februari 2026 — Dua mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat (MKM), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Utari Woro Hanjaya dan Yusli Harini, berhasil meraih Session Best Presentation Award pada ajang The 9th International Conference on Global Public Health atau GLOBEHEAL 2026. Penghargaan ini diperoleh keduanya setelah tampil sebagai presenter dalam sesi ilmiah internasional yang diselenggarakan di Bali, 12–13 Februari 2026, oleh The International Institute of Knowledge Management (TIIKM).
GLOBEHEAL 2026 merupakan forum ilmiah internasional yang mempertemukan akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi kesehatan dari berbagai negara untuk merespons tantangan kesehatan global secara kolaboratif. Konferensi tahun ini mengusung tema “Positive Responses to Global Public Health: Challenges and Solutions”. Dalam forum tersebut, mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat UGM turut berpartisipasi aktif sebagai presenter dalam sesi ilmiah internasional dan berhasil meraih apresiasi pada tingkat sesi.
Utari Woro Hanjaya: Evaluasi Program PMT Lokal di Kabupaten Pekalongan
Utari Woro Hanjaya, mahasiswa Minat Gizi dan Kesehatan, meraih penghargaan pada sesi Maternal, Child, and Adolescent Health melalui presentasi penelitian berjudul “Evaluation of the Local Food Supplementation Program (PMT Lokal) in Pekalongan Regency: Effects on Dietary Diversity, Weight, and Nutrient Intake among 1–3 Years Old Children.” Penelitian ini mengevaluasi efektivitas program PMT Lokal dalam meningkatkan keberagaman konsumsi dan asupan zat gizi anak usia 1–3 tahun di wilayah dengan prevalensi wasting tinggi, menggunakan desain quasi-experimental pretest–posttest dan analisis Difference-in-Differences (DID) yang membandingkan kelompok penerima intervensi dan kontrol selama April–Juni 2025.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada Dietary Diversity Score (DDS), asupan energi, dan asupan karbohidrat pada kelompok intervensi. Namun, peningkatan asupan protein dan berat badan belum menunjukkan perbedaan bermakna, yang mengindikasikan perlunya perbaikan formulasi resep berbasis pangan lokal serta penguatan kapasitas tenaga kesehatan dalam konseling gizi. Temuan ini diharapkan menjadi dasar berbasis bukti untuk optimalisasi program suplementasi pangan lokal dalam mendukung percepatan penurunan wasting dan stunting di tingkat daerah.
Yusli Harini: Dampak Awal Intervensi Wolbachia terhadap Kasus DBD di Kabupaten Bantul
Sementara itu, Yusli Harini, mahasiswa Minat Field Epidemiology Training Program (FETP), meraih penghargaan pada sesi Innovations in Public Health and Digital Healthcare melalui presentasi penelitian berjudul “Preliminary Evidence of Dengue Case Reduction Following Wolbachia Intervention in Bantul District, Indonesia.” Penelitian ini mengevaluasi dampak awal intervensi Wolbachia yang diperkenalkan pada tahun 2022 di 38 desa di Kabupaten Bantul sebagai strategi tambahan pengendalian vektor dengue, menggunakan desain ekologis before–after berbasis data surveilans sekunder dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul yang membandingkan jumlah kasus sebelum (2022) dan setelah intervensi (2024).
Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan signifikan rata-rata kasus DBD pada desa intervensi (mean -10,58; p<0,001), sementara desa non-intervensi justru mengalami peningkatan kasus. Selain itu, terjadi pergeseran dominasi beban kasus, yakni desa yang sebelumnya termasuk dalam 10 besar kasus tertinggi pada 2022 tidak lagi mendominasi pada 2024. Temuan ini memberikan sinyal awal efektivitas Wolbachia sebagai inovasi pengendalian biologis dengue di tingkat kabupaten, sekaligus menjadi dasar penting bagi penguatan kebijakan dan penelitian lanjutan dengan desain yang lebih komprehensif.
Capaian kedua mahasiswa ini menegaskan kapasitas mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat UGM dalam menghasilkan riset yang unggul, inovatif, dan relevan terhadap tantangan kesehatan global. Pihak program studi menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kontribusi akademik yang membanggakan tersebut di forum internasional.
Prestasi di GLOBEHEAL 2026 ini membuktikan bahwa mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat UGM mampu bersaing dan berkontribusi di panggung global melalui riset yang berdampak nyata. Capaian ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh mahasiswa untuk terus berani berkarya, berinovasi, dan membawa solusi kesehatan masyarakat ke level internasional.
Penulis: M.Ilham Gibran
Editing: Nanda Melania

Narahubung: Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, FKKMK UGM — ph.fkkmk.ugm.ac.id | Instagram @publichealthugm | Twitter/X @s2ikm_ugm | Facebook Magister IKM UGM

UGM Jadi Tuan Rumah Distance/Blended Learning Workshop, Perkuat Pembelajaran Kesehatan Berbasis A.I.

Yogyakarta, 10 Juli 2026 – FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Distance/Blended Learning Workshop yang berlangsung secara tatap muka pada 6–10 Juli 2026 di Pandawa Room, The Phoenix Hotel Yogyakarta. Lokakarya bertaraf internasional ini merupakan edisi keempat dari rangkaian pelatihan pembelajaran bauran (blended learning) dengan integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mengusung tema “Get Started, Keep Moving”. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas para pengajar bidang kesehatan dalam merancang, mengembangkan, dan menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh serta pembelajaran bauran yang berkualitas.
Lokakarya ini terdiri atas dua komponen yang saling terhubung, yaitu komponen daring yang telah berlangsung pada 2 Februari hingga 15 Maret 2026 dan komponen tatap muka yang diselenggarakan pada 6–10 Juli 2026 di Yogyakarta. Kegiatan diselenggarakan atas kerjasama sejumlah institusi lintas negara, yakni Institute of Tropical Medicine (ITM) Antwerp, Belgia; Center for Tropical Medicine UGM; Institute of Public Health Bengaluru, India; serta National Rural Health Training and Research Centre Maférinya, Guinea-Conakry. Pada pembukaan kegiatan, Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, menyampaikan sambutan selamat datang yang menegaskan komitmen UGM dalam pengembangan pendidikan kesehatan berbasis teknologi.
Lokakarya diikuti oleh sembilan pasang peserta yang berasal dari berbagai institusi pendidikan dan kesehatan di kawasan Afrika dan Asia. Setiap pasang peserta mengembangkan proyek rancangan mata kuliah daring sesuai bidang keahliannya, mulai dari imunologi dan penerimaan vaksin, pencegahan dan pengendalian tuberkulosis, metode penelitian kuantitatif, epidemiologi, hingga peresepan antibiotik yang rasional. Indonesia diwakili oleh staf pengajar dan tenaga kependidikan FK-KMK UGM dari Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Departemen Biostatistics Epidemiology and Population Health (BEPH), yaitu dr. Ahmad Watsiq Maula, MPH dan Vivin Fitriana, SKM., MPH yang mengembangkan mata kuliah “Epidemiology 2 – Blended Learning”, serta dr. Risalia Reni Arisanti, MPH sebagai Subject Matter Expert. Selain sebagai peserta, Ketua Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM, dr. Riris Andono Ahmad, MPH., PhD., juga berperan sebagai fasilitator kegiatan bersama dengan Malida Magista yang juga turut membimbing jalannya kegiatan.
Selama sepekan, peserta menjalani serangkaian tugas praktik (hands-on) yang menjadi inti dari lokakarya. Pada tugas pertama, peserta mempresentasikan proposal rancangan mata kuliah e-learning dengan menerapkan pendekatan backwards design serta metode ABC blended learning untuk merancang aktivitas pembelajaran dan penilaian. Tugas kedua mengarahkan peserta merancang dan merekam video pembelajaran interaktif yang dilengkapi interaksi bagi pembelajar. Pada tugas ketiga, peserta menghasilkan transkrip video sekaligus menyusun penilaian mandiri (self-assessment) formatif berbantuan AI dengan memperhatikan kualitas, validitas, dan keadilan butir soal. Adapun tugas keempat berfokus pada penataan dan pengelolaan sistem manajemen pembelajaran (Learning Management System) menggunakan Moodle.
Integrasi kecerdasan buatan menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh rangkaian kegiatan. Peserta dilatih memanfaatkan AI untuk menyusun skenario dan naskah video, membuat butir penilaian mandiri, serta menghasilkan aktivitas pembelajaran. Sepanjang lokakarya, peserta juga secara berkelanjutan berlatih merancang perintah (prompt design) dan melakukan refleksi kritis terhadap luaran yang diberikan oleh AI, sehingga teknologi ditempatkan sebagai alat bantu yang tetap mengutamakan kualitas pembelajaran dan peran pengajar. Rangkaian kegiatan ditutup dengan presentasi proyek akhir tiap kelompok serta diskusi bertema pelatihan di era kecerdasan buatan.
Penyelenggaraan lokakarya ini memberikan nilai tambah yang signifikan bagi tenaga pengajar dari UGM, khususnya Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat FK-KMK. Sebagai tuan rumah, UGM memperkuat posisinya sebagai pusat pengembangan kapasitas pendidikan kesehatan bertaraf internasional sekaligus memperluas jejaring kerjasama akademik lintas benua. Keterlibatan staf pengajar Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat dari Departemen Biostatistics, Epidemiology, and Population Health (BEPH) FK-KMK sebagai peserta maupun fasilitator turut mendorong peningkatan mutu pembelajaran, penguatan kompetensi digital dosen, serta pengembangan mata kuliah berbasis blended learning yang dapat diterapkan langsung dalam proses pendidikan di lingkungan universitas.
Kegiatan ini sejalan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Lokakarya mendukung SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan mutu perancangan pembelajaran dan pemanfaatan teknologi pendidikan secara inklusif. SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera turut didukung melalui penguatan kapasitas tenaga pendidik bidang kesehatan yang berperan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia kesehatan. Selain itu, kegiatan ini mendorong SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pemanfaatan kecerdasan buatan dan platform pembelajaran digital, serta memperkuat SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan dengan membuka akses pendidikan berkualitas bagi pengajar dari berbagai negara dengan sumber daya terbatas. Kolaborasi lintas negara dan lintas institusi yang menjadi ciri kegiatan ini juga mencerminkan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis: Nofathana Saputra

Public Health Symposium ke-16 UGM Bahas Peran AI dalam Pendidikan Kesehatan Masyarakat

Yogyakarta, 3 Juli 2026 — Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), kembali menyelenggarakan Public Health Symposium, agenda tahunan yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-16. Mengusung tema “Improving Public Health through Innovative Education Approach: The Use of AI and Other Innovation”, kegiatan berlangsung selama dua hari secara hybrid dan diikuti lebih dari 100 peserta yang mengirimkan abstrak penelitian, mulai dari mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat UGM, mahasiswa dari perguruan tinggi lain, hingga perwakilan instansi kesehatan pemerintahan.

Simposium ini diselenggarakan sebagai wadah bagi mahasiswa dan dosen untuk memaparkan hasil serta ide penelitian di bidang kesehatan masyarakat, sekaligus mendorong kontribusi berkelanjutan dalam riset dan inovasi pendidikan kesehatan.

Hari Pertama: Presentasi Abstrak

Pada hari pertama, seluruh peserta memaparkan hasil penelitiannya dalam sesi presentasi abstrak yang terbagi ke dalam 16 subtema, di antaranya epidemiologi, kesehatan masyarakat, systematic review, kesehatan lingkungan, hingga kebijakan dan manajemen kesehatan (health policy and management). Sesi ini menghadirkan beragam ide dan temuan penelitian yang menarik untuk diikuti oleh para peserta.

Hari Kedua: Research Update dan Sesi Panel

Memasuki hari kedua, kegiatan diisi dengan sesi research update yang menghadirkan sejumlah dosen, baik dari Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat maupun dari Program Studi Gizi dan Kebijakan Kesehatan (Health Policy and Management) UGM. Selain menyampaikan tanggapan atas abstrak yang dikirimkan peserta, para narasumber pada sesi ini turut memaparkan hasil-hasil penelitian dan temuan terbaru di bidangnya masing-masing.

Sesi yang paling dinantikan peserta pada hari kedua adalah sesi panel yang mengangkat pembahasan mengenai peran kecerdasan buatan (AI) dalam dunia kesehatan. Sesi ini menghadirkan lima narasumber utama, yaitu:

Dr. Ariyanto Nugroho, SKM., M.Sc. — Topik: “The Future of Public Health Profession: Adapting to AI and Digital Innovations in Health Education”

Perwakilan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

 

Dr.Agr.Sc. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU, ASEAN Eng. — Topik: “Integrating Technological Innovations into Higher Education Curricula for Health Sciences”

Perwakilan Pusat Inovasi dan Kajian Akademik (PIKA) UGM

 

Anis Fuad, S.Ked, DEA — Topik: “Training Future Public Health Specialists: Leveraging AI and Big Data in Public Health Education”

Dosen  Magister Kesehatan Masyarakat FKKMK UGM

 

Ari Prayogo Pribadi, S.T., M.T., Ph.D. — Topik: “Evidence-Based Applications of AI in Public Health Interventions and Community Education”

Dosen  Magister Kesehatan Masyarakat FKKMK UGM

 

Prof. Huan Nguyen — Topik: “Leveraging Digital Twins for Advanced Epidemiological Education”

Middlesex University London

Pembahasan mengenai pemanfaatan AI bagi dunia kesehatan dalam sesi panel ini mendapat animo yang tinggi dari peserta, baik dari kalangan mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat UGM, mahasiswa dari kampus lain, maupun perwakilan instansi kesehatan pemerintahan yang turut hadir.

Melalui Public Health Symposium ke-16 ini, Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat FKKMK UGM berharap dapat terus mengasah keterampilan mahasiswa dan dosen dalam memaparkan hasil serta ide penelitian, sekaligus mendorong kontribusi yang berkelanjutan dalam pengembangan riset dan inovasi pendidikan di bidang kesehatan masyarakat.

Penulis: Nanda Melania

Narahubung: Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, FKKMK UGM — ph.fkkmk.ugm.ac.id | Instagram @publichealthugm | Twitter/X @s2ikm_ugm | Facebook Magister IKM UGM

 

 

Public Health Symposium 2024: One Health Approach: Addressing Challenges in Antimicrobial Resistance

Yogyakarta, 13 Juni 2024- Magister Kesehatan Masyarakat FKKMK UGM sukses menggelar Public Health Symposium dengan tema One Health Approach: Addressing Challenges in Antimicrobial Resistance. Acara yang berlangsung pada 12-13 Juni 2024 ini menghadirkan berbagai pemikiran dan temuan terbaru dalam bidang kesehatan masyarakat, sebanyak 114 abstrak berhasil masuk pada kegiatan PHS periode ini.

 

Tidak hanya diikuti oleh civitas akademika  UGM saja, beberapa universitas dan institusi lain juga turut ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini, diantaranya Universitas Jember, Universitas Indonesia, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Diponegoro, BPOM, BRIN, BPJS dan Dinkes Jambi”serta universitas negeri lain di Indonesia.

Pada hari pertama, para mahasiswa mempresentasikan abstrak dan temuan kasus mereka yang telah disiapkan dengan seksama. Mereka menunjukkan berbagai inovasi dan pendekatan baru dalam mengatasi masalah resistensi antimikroba, sebuah tantangan global yang semakin mendesak.

Hari kedua acara ini diisi dengan sesi panel yang menghadirkan beberapa ahli internasional. Narasumber yang hadir adalah Prof. Hiroshi Sato dari Yamaguchi University, Jepang; Dr. Ahmed Abd. El Wahid dari Leipzig University, Jerman; Prof. Roger Frutos dari Montpellier University, Prancis; serta Prof. Dr. Tri Wibawa, PhD, SP.MK(K) dari Universitas Gadjah Mada. Diskusi panel ini memberikan wawasan mendalam dan perspektif global mengenai strategi dan kebijakan yang perlu diadopsi untuk menghadapi resistensi antimikroba.

Prof. Hiroshi Sato membahas pentingnya pendekatan multidisipliner dalam mengatasi resistensi antimikroba, sementara Dr. Ahmed Abd. El Wahid membagikan penelitian terbaru tentang faktor-faktor yang mempengaruhi resistensi bakteri di lingkungan rumah sakit. Prof. Roger Frutos menyoroti pentingnya pengembangan antibiotik baru dan penggunaan yang tepat, sedangkan Prof. Dr. Tri Wibawa menekankan pentingnya kebijakan kesehatan masyarakat yang berkelanjutan dalam menangani masalah ini.

Symposium ini tidak hanya memperdalam pemahaman peserta tentang tantangan resistensi antimikroba tetapi juga mendorong kolaborasi lintas negara dan disiplin ilmu. Diskusi yang berjalan hangat dan interaktif memberikan harapan baru dalam pencarian solusi terhadap krisis kesehatan global ini.

Acara ini juga menjadi ajang bagi para mahasiswa untuk mengasah kemampuan presentasi dan penelitian mereka, serta memperluas jaringan akademis dan profesional. “Kami berharap kegiatan ini dapat memacu semangat penelitian dan inovasi di kalangan mahasiswa, serta memberikan dorongan kepada mahasiswa agar bisa mempresentasikan temuan-temuan menarik ini di conference internasional,” ujar dr. Fatwa Sari Tetra Dewi, M.P.H., Ph.D.

Dengan berakhirnya symposium ini, para peserta diharapkan memiliki bekal pengetahuan dan inspirasi baru untuk terus berkontribusi dalam bidang kesehatan masyarakat serta memiliki langkah-langkah konkret dan kerjasama yang baik, sehingga dapat mempercepat solusi terhadap masalah resistensi antimikroba di Indonesia dan dunia.

#PublicHealthSymposium #OneHealthApproach #AntimicrobialResistance #FKKMKUGM