Tag Archive for: SDGs4

Magister Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM Sukses Gelar Public Health Symposium ke-14: Soroti Integritas Etika dalam Program dan Riset Kesehatan

Yogyakarta, 15 Mei 2025 — Program Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada kembali menunjukkan konsistensinya dalam mendukung pengembangan ilmu dan praktik kesehatan masyarakat melalui penyelenggaraan Public Health Symposium (PHS) ke-14. Kegiatan ini digelar pada 14–15 Mei 2025 di Gedung Ilmu Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM, dan tahun ini mengangkat tema “Strengthening Ethical Integrity in Public Health Programs and Research.”

Tema ini dipilih sebagai respons terhadap semakin kompleksnya tantangan dalam dunia kesehatan masyarakat, di mana aspek etika memegang peranan sentral dalam merancang, melaksanakan, serta mengevaluasi program dan riset. Simposium ini menjadi ruang penting untuk mendiskusikan bagaimana nilai-nilai etika dapat diterapkan secara konkret dalam berbagai konteks lokal maupun global.

PHS ke-14 berhasil menarik perhatian luas dari kalangan akademisi, peneliti, mahasiswa, dan praktisi kesehatan masyarakat. Tercatat lebih dari 90 abstrak ilmiah diterima oleh panitia, mencerminkan tingginya antusiasme dan kepedulian terhadap isu-isu strategis dalam dunia kesehatan. Tidak hanya dari lingkungan UGM, para pengirim abstrak dan peserta simposium juga berasal dari berbagai universitas dan institusi di luar UGM, termasuk dari wilayah-wilayah lain di Indonesia.

Seluruh abstrak yang masuk telah melalui proses seleksi yang ketat oleh tim reviewer yang kompeten. Seleksi ini tidak hanya mempertimbangkan orisinalitas ide dan kekuatan metodologi, tetapi juga sejauh mana penelitian yang diajukan dapat memberikan kontribusi pada penguatan praktik kesehatan masyarakat yang beretika. Seperti tahun-tahun sebelumnya, simposium ini juga akan menobatkan beberapa abstrak terbaik yang dinilai paling unggul dan relevan.

Selama dua hari pelaksanaan, peserta disuguhi rangkaian sesi paralel yang membahas berbagai topik terkait dengan kebijakan kesehatan, epidemiologi, promosi kesehatan, manajemen layanan kesehatan, hingga riset kesehatan berbasis komunitas. Sesi-sesi ini tidak hanya menjadi forum berbagi pengetahuan, tetapi juga mendorong kolaborasi lintas institusi dan membuka peluang kerja sama riset ke depan.

Penyelenggaraan PHS ke-14 ini memperkuat peran Program Magister Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM sebagai pelopor dalam menciptakan ruang dialog akademik dan praktik yang terbuka, inklusif, dan berintegritas. Kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa serta praktisi dalam merancang intervensi dan penelitian yang tidak hanya berbasis bukti, tetapi juga menjunjung tinggi prinsip-prinsip etika.

Dengan semakin berkembangnya tantangan dalam dunia kesehatan masyarakat, PHS ke-14 menjadi pengingat penting bahwa ilmu dan etika harus berjalan beriringan demi mewujudkan pelayanan kesehatan yang adil, transparan, dan bertanggung jawab bagi masyarakat luas.

Penulis: Nanda Melania D.

Dosen Magister Kesehatan Masyarakat Isi Annual Training Pascasymposium Kesehatan Masyarakat

Yogyakarta, 17 Mei 2025 — Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi (BEPH) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM kembali menyelenggarakan kegiatan Annual Training sebagai rangkaian lanjutan dari Public Health Symposium (PHS). Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, pada 16–17 Mei 2025, bertempat di Gedung Ilmu Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, peserta annual training kali ini tidak hanya berasal dari lingkungan FK-KMK UGM, namun juga melibatkan peserta dari berbagai instansi di luar UGM. Hal ini menunjukkan antusiasme dan kebutuhan yang besar dari berbagai kalangan terhadap pelatihan yang ditawarkan.

Tahun ini, Annual Training mengusung dua topik utama yang dirancang untuk mendukung pengembangan kapasitas mahasiswa dan profesional di bidang kesehatan masyarakat, khususnya mereka yang juga aktif bekerja. Topik pertama adalah “Introduction to R for Health Data Analysis” yang dibawakan oleh dr. Ahmad Watsiq Maula, MPH. Sesi ini membekali peserta dengan kemampuan dasar dalam menggunakan perangkat lunak R untuk analisis data kesehatan, yang semakin banyak digunakan dalam riset dan praktik kesehatan masyarakat.

Topik kedua adalah “Systematic Review and Meta-Analysis” yang disampaikan oleh Bayu Satria Wiratama, S.Ked., MPH., Ph.D., dan M. Syairaji, SKM., MPH. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang metode kajian pustaka sistematis dan meta-analisis, yang menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan berbasis bukti di dunia kesehatan.

Dr. Bayu Satria menyampaikan bahwa kegiatan seperti Annual Training ini sangat penting, khususnya bagi mahasiswa yang juga berkarier di luar kampus. “Melalui pelatihan seperti ini, kami berharap peserta tidak hanya mampu meningkatkan kapasitas mereka secara teknis, tetapi juga mampu menyebarkan ilmu yang diperoleh ke ranah yang lebih luas lagi,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa apabila terdapat kebutuhan akan pelatihan serupa di masa mendatang, para peserta atau institusi dapat langsung menghubungi kontak person Departemen BEPH.

Kegiatan Annual Training ini menjadi bagian dari komitmen FK-KMK UGM dalam mendukung pembelajaran sepanjang hayat dan penguatan kapasitas profesional di bidang kesehatan masyarakat, baik dari kalangan akademisi maupun praktisi.

Penulis: Nanda Melania D.

Photovoice sebagai Jembatan Inklusivitas bagi ODHA dan Populasi Kunci: Seminar Rabuan Departemen BEPH FK-KMK UGM

Yogyakarta, 19 Maret 2025 — Upaya membangun masyarakat yang inklusif terhadap Orang dengan HIV (ODHIV) kembali menjadi perhatian dalam Seminar Rabuan yang diselenggarakan oleh Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi (BEPH), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, Rabu (19/3/2025). Seminar bertajuk “Bagaimana Photovoice Membantu Masyarakat Inklusif Terhadap Orang Dengan HIV” ini menghadirkan Dr. Ami Kamila, S.ST., M.Kes sebagai narasumber dan dimoderatori oleh Widyawati, S.Kp., M.Kes., Ph.D.

Dalam sambutannya, Kepala Departemen BEPH, Dr. Mub, menekankan pentingnya membangun masyarakat yang inklusif dalam konteks kesehatan populasi. “Inklusivitas berarti tidak membedakan siapa yang menjadi bagian dari populasi. Semua berhak atas layanan dan perlindungan kesehatan, termasuk mereka yang hidup dengan HIV. Kesehatan adalah milik bersama, bukan hanya milik individu,” ujarnya.

Dr. Ami Kamila membagikan hasil penelitiannya mengenai photovoice, sebuah metode partisipatif yang memadukan foto dan narasi pribadi untuk menyuarakan pengalaman komunitas yang terstigma, khususnya ODHIV dan populasi kunci. Menurutnya, photovoice bukan hanya alat penelitian, tetapi juga merupakan intervensi sosial yang kuat.

“Photovoice memungkinkan populasi terdampak untuk mendokumentasikan pengalaman mereka sendiri, menyampaikan kisah mereka secara langsung kepada masyarakat dan tenaga kesehatan,” jelas Dr. Ami. Ia menambahkan bahwa metode ini membuka ruang dialog dan refleksi yang selama ini jarang terjadi dalam pendekatan medis konvensional. Dalam pameran virtual yang dirancang dari hasil penelitiannya, pengunjung tidak hanya melihat foto, tetapi juga mendengar langsung suara mereka yang kerap terpinggirkan.

Beberapa temuan yang ditampilkan dalam pameran menggambarkan kerasnya stigma yang dihadapi populasi kunci. Mulai dari diskriminasi dalam layanan kesehatan hingga penolakan oleh keluarga, masing-masing kisah yang terdokumentasi mengungkapkan realitas menyakitkan yang masih banyak terjadi di tengah masyarakat. Foto-foto seperti alat makan yang tak diberikan kepada pasien HIV, tangan penuh luka akibat kekerasan keluarga, hingga wajah-wajah yang kehilangan harapan menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan stigma masih jauh dari usai.

Dr. Ami menegaskan bahwa meski kemajuan medis telah memungkinkan pengobatan HIV berkembang pesat, tantangan besar tetap terletak pada target ketiga dari kampanye Three Zero: nol stigma dan diskriminasi. “Tanpa disadari, masyarakat—termasuk tenaga kesehatan—masih menjadi penghalang bagi ODHIV untuk mendapatkan hak kesehatan yang layak,” ungkapnya.

Hasil dari pameran photovoice menunjukkan adanya perubahan persepsi di kalangan pengunjung, yang mencakup tenaga kesehatan, mahasiswa, dan masyarakat umum. Sebagian besar partisipan mengaku lebih memahami dan lebih empatik setelah mengikuti pameran, bahkan menyatakan terkejut melihat bagaimana dalamnya dampak stigma yang dialami para penyintas HIV.

Diskusi juga membahas tantangan implementasi pendekatan serupa di Indonesia, termasuk pertanyaan dari peserta tentang bagaimana negara-negara lain menghadapi stigma terhadap HIV. Dr. Ami menjelaskan bahwa secara global sudah banyak kampanye seperti Three Zero, harm reduction, hingga edukasi publik melalui media. Namun, implementasinya di Indonesia masih menghadapi kendala besar, salah satunya adalah kurangnya ruang ekspresi dan masih minimnya dukungan multisektor.

“Photovoice membuka jalan untuk membangun empati yang lebih dalam dan mendekatkan masyarakat kepada realitas yang selama ini tersembunyi. Harapannya, pendekatan ini bisa terus diperluas dan didukung lintas sektor untuk membangun masyarakat yang lebih adil, empatik, dan benar-benar inklusif,” pungkas Dr. Ami.

Penulis: Nanda Melania D.

Enam Mahasiswa Swedia Lakukan Penelitian di UGM dalam Program Pertukaran Mahasiswa Non-Gelar

Yogyakarta, Maret 2025 – Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada kembali menerima mahasiswa asing dalam program Incoming Student Research Programme – Non-Degree. Pada semester ini, enam mahasiswa dari Swedia yang berasal dari Universitas Gothenburg (UGOT) dan Universitas Umeå menjalankan kegiatan penelitian di UGM selama dua bulan, yaitu Maret hingga April 2025.

Selama periode penelitian, para mahasiswa menggunakan data dari Sleman Health and Demographic Surveillance System (HDSS) serta Indonesia Family Life Survey (IFLS) sebagai sumber utama. Topik penelitian yang dikaji sangat beragam, mulai dari ketahanan pangan pada kelompok disabilitas dan kaitannya dengan kesehatan mental, hingga isu kehamilan, kesehatan reproduksi, dan cedera (injury). Selain melakukan pengambilan dan analisis data, para mahasiswa juga dijadwalkan mengunjungi berbagai fasilitas layanan kesehatan guna memperdalam pemahaman kontekstual terkait penelitian mereka.

Program ini merupakan bagian dari kolaborasi jangka panjang antara UGM, UGOT, dan Universitas Umeå dalam bidang kesehatan masyarakat. Di bawah bimbingan para dosen UGM, mahasiswa diharapkan mendapatkan pengalaman riset yang komprehensif sekaligus memperluas wawasan akademik mereka. Tak hanya itu, kehadiran mereka turut membuka ruang pertukaran ilmu, perspektif, dan pengalaman dengan mahasiswa serta sivitas akademika UGM.

Pelaksanaan program ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being), dengan memperkuat kapasitas riset di bidang kesehatan masyarakat, serta SDG 4 (Quality Education) melalui penyediaan pengalaman belajar lintas budaya. Selain itu, program ini turut berkontribusi pada SDG 17 (Partnerships for the Goals), dengan membangun kemitraan internasional yang berkelanjutan dalam bidang akademik dan penelitian.

Melalui program ini, diharapkan tercipta kolaborasi riset jangka panjang yang tidak hanya memperkaya pengalaman akademik para mahasiswa, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan solusi untuk tantangan kesehatan masyarakat, baik di tingkat lokal maupun global.

Penulis: Nanda Melania D. dan Zilfani Fuadiyah Haq

Dosen Magister Kesehatan Masyarakat UGM Berkontribusi dalam Workshop Monitoring dan Evaluasi Proyek STRIPE di Yogyakarta

Yogyakarta, 7 Februari 2025 – Dosen Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat (MKM), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, dr. Ardhina Ramania, MPH, berperan aktif sebagai fasilitator dalam Workshop “Preparation on Implementation Action Plans and Workshop on Monitoring and Evaluation” yang diselenggarakan pada 5–7 Februari 2025 di Hotel Swiss-Belboutique Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek global STRIPE (Synthesis and Translation of Research and Innovations from Polio Eradication), yang bertujuan mendukung upaya penghapusan polio melalui penguatan kapasitas penelitian di Indonesia.

Selama dua hari terakhir pelaksanaan workshop, dr. Ardhina memberikan materi seputar Goals and Objectives, Results Chain, dan Data Quality. Materi disampaikan melalui pendekatan interaktif dan diskusi kelompok yang mendorong peserta untuk memahami secara mendalam konsep dasar monitoring dan evaluasi (M&E) dalam konteks implementasi program kesehatan masyarakat.

Workshop ini diikuti oleh para fasilitator dari Universitas Andalas, Universitas Udayana, dan Universitas Lambung Mangkurat, baik secara langsung maupun daring. Tujuan utama kegiatan ini adalah membekali para peserta dengan keterampilan teknis dalam M&E agar dapat memastikan pelaksanaan program eradikasi polio berlangsung secara efektif, terukur, dan berbasis data yang kuat.

Kegiatan ini juga mencerminkan komitmen terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG ke-3 tentang Good Health and Well-Being, yang berfokus pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat serta penghapusan penyakit menular seperti polio. Selain itu, workshop ini turut mendukung SDG ke-4 tentang Quality Education dengan menekankan pengembangan kapasitas tenaga akademik dan praktisi dalam pengambilan keputusan berbasis bukti.

Melalui pelatihan ini, diharapkan para fasilitator mampu menjadi agen perubahan yang berkontribusi langsung terhadap keberhasilan program kesehatan masyarakat yang berkelanjutan, khususnya dalam upaya global untuk mengakhiri polio.

Penulis:  Zilfani Fuadiyah Haq dan Nanda Melania D.

Diskusi Kemitraan KONEKSI : Membangun Jaringan dan Kolaborasi Riset Australia-Indonesia

Yogyakarta, 4 Maret 2025– Diskusi Kemitraan KONEKSI yang diselenggarakan di Harper Hotel, Yogyakarta, menjadi ajang penting bagi para mitra pengetahuan berbasis di Yogyakarta untuk bertemu, berjejaring, dan mengeksplorasi peluang kolaborasi riset internasional. Acara ini juga menjadi momen mempererat hubungan antar pemangku kepentingan dalam dunia akademik dan penelitian dan mengumpulkan para peneliti berbasis di Yogyakarta guna memperkuat kolaborasi dalam riset internasional. 

KONEKSI (Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia) adalah inisiatif kolaboratif di sektor pengetahuan dan inovasi yang bertujuan mendukung kemitraan antara organisasi di Australia dan Indonesia. Program ini mendorong kerja sama dalam kebijakan dan teknologi yang inklusif serta berkelanjutan. Didukung oleh Pemerintah Australia dan Indonesia, KONEKSI berupaya membangun kemitraan pengetahuan yang setara serta memanfaatkan pengetahuan lokal untuk mengatasi tantangan sosial-ekonomi termasuk kesehatan dan perubahan iklim. Diskusi ini bertujuan untuk mengevaluasi kegiatan penelitian yang telah dilakukan serta menjajaki peluang kerja sama di masa depan. 

Salah satu peserta yang turut hadir adalah Erlin Erlina, SIP, MA, PhD, dosen Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial FKKMK UGM. Beliau berperan aktif dalam diskusi terkait penguatan kerjasama penelitian antara Indonesia dan Australia. Kehadiran beliau menjadi salah satu aspek penting dalam membangun sinergi antara akademisi dan mitra penelitian lainnya.

Para peserta diskusi berasal dari berbagai institusi, termasuk universitas negeri dan swasta, lembaga pendidikan vokasi, sektor swasta/korporasi, Lembaga Swadaya Masyarakat (NGO), wakil dari pemerintah Australia, serta perwakilan pusat studi dan organisasi riset nasional. Dengan kehadiran berbagai pihak tersebut, diskusi ini berhasil menciptakan wadah interaktif untuk bertukar gagasan dan pengalaman dalam membangun kerja sama penelitian yang lebih luas.

Salah satu hasil konkret dari agenda ini adalah rencana pembentukan KONEKSI Research Hub. Inisiatif ini bertujuan untuk memudahkan networking dan membuka lebih banyak peluang kerja sama antara peneliti Indonesia dan Australia. KONEKSI Research Hub diharapkan menjadi platform yang mempercepat pertukaran pengetahuan, memperluas akses terhadap sumber daya riset, serta memperkuat kontribusi penelitian terhadap pembangunan berkelanjutan di kedua negara.

Komitmen KONEKSI sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDGs), terutama dalam meningkatkan akses terhadap pendidikan berkualitas (SDG 4) melalui penguatan kolaborasi penelitian dan pertukaran pengetahuan. Selain itu, program ini juga berkontribusi pada pengembangan industri, inovasi, dan infrastruktur (SDG 9) dengan membangun ekosistem penelitian yang lebih kuat dan inovatif. Lebih jauh, KONEKSI mendukung pencapaian SDG 17 dengan mendorong kemitraan yang erat antara akademisi, sektor swasta, dan pemerintah guna mencapai pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.

Dengan adanya diskusi semacam ini, diharapkan sinergi antara akademisi, sektor industri, dan lembaga penelitian semakin erat. Kolaborasi yang berkelanjutan ini diharapkan dapat memberikan dampak luas bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan kebijakan publik di Indonesia maupun Australia.

Penulis: Nanda Melania D. dan Zilfani Fuadiyah Haq

 

Delapan Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat UGM Ikuti Program Pertukaran di Mahidol University, Thailand

Yogyakarta, 13 Maret 2025 – Delapan mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada turut serta dalam Program Pertukaran Mahasiswa: Isu Kesehatan dan Sistem Kesehatan di Thailand yang diadakan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat, Mahidol University, Thailand. Program ini berlangsung dari 15 hingga 26 Maret 2025 dan bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung dalam memahami sistem serta kebijakan kesehatan di Thailand.

Mahasiswa yang terpilih berasal dari berbagai bidang minat, termasuk International Health, Kesehatan Ibu dan Anak – Kesehatan Reproduksi, Kesehatan Lingkungan, serta Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Mereka akan mengikuti berbagai kegiatan akademik dan praktik lapangan guna memperluas wawasan serta meningkatkan keterampilan di bidang kesehatan masyarakat.

Memahami Sistem Kesehatan Thailand Secara Langsung

Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi pengaruh faktor budaya, sosial, dan lingkungan terhadap praktik kesehatan masyarakat di Thailand. Salah satu fokus utama dalam kegiatan ini adalah Jaminan Kesehatan Semesta (Universal Health Coverage/UHC) di Thailand, yang dikenal sebagai model sukses dalam penyediaan layanan kesehatan yang inklusif bagi masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa akan mendalami implementasi, strategi pendanaan, serta dampak kebijakan UHC terhadap sistem kesehatan di Thailand.

Selain itu, mahasiswa juga akan melakukan kunjungan lapangan dan berpartisipasi dalam inisiatif kesehatan masyarakat, yang memungkinkan mereka untuk mengamati secara langsung strategi Thailand dalam meningkatkan kesetaraan kesehatan, memberdayakan komunitas, dan memberikan edukasi kesehatan. Program ini juga membuka peluang kolaborasi dalam penelitian terkait isu kesehatan global, seperti kesehatan ibu dan anak, penyakit menular, serta kesehatan lingkungan.

Beragam Kegiatan Interaktif dalam Program

Mahasiswa akan terlibat dalam berbagai kegiatan yang telah dirancang untuk memperkaya pengalaman mereka, antara lain:

  • Pengenalan lingkungan akademik dan infrastruktur di Mahidol University.
  • Diskusi tentang sistem kesehatan Thailand serta implementasi UHC.
  • Kunjungan ke pusat layanan kesehatan masyarakat, rumah aman bagi perempuan dan anak, serta pusat inovasi kesehatan lansia.
  • Eksplorasi kawasan ramah lingkungan di Green City, Bang Krachao, Samut Prakan.
  • Diskusi kelompok mengenai isu kesehatan dan sistem kesehatan di masing-masing negara peserta.
  • Eksplorasi budaya dengan mengunjungi Temple of the Emerald Buddha.
  • Presentasi mahasiswa terkait isu kesehatan dan sistem kesehatan di negara masing-masing.
  • Evaluasi program dan acara perpisahan sebelum kembali ke negara asal.

Memperkuat Jejaring dan Kolaborasi Internasional

Selain memperluas wawasan akademik, program ini juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan komunikasi lintas budaya serta kemampuan beradaptasi dalam lingkungan internasional. Interaksi dengan mahasiswa dan akademisi dari Mahidol University diharapkan dapat membuka peluang kerja sama dalam penelitian dan inovasi di bidang kesehatan masyarakat.

Melalui partisipasi dalam program pertukaran ini, mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM tidak hanya mendapatkan wawasan baru mengenai sistem kesehatan Thailand, tetapi juga memperkuat peran mereka sebagai calon pemimpin di bidang kesehatan masyarakat global. Program ini menjadi langkah strategis dalam memperluas perspektif akademik dan profesional mereka.

 

Penulis: Nanda Melania D.

Editor: Digna Niken Purwaningrum, S.Gz, MPH, Ph.D

Dosen Magister Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM Tekankan Peran Lintas Sektor dalam Kesehatan Jiwa

Yogyakarta, 5 Februari 2025 – Dr. Supriyati, S.Sos., M.Kes., dosen Magister Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM, menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam mewujudkan kesehatan jiwa yang optimal. Hal ini disampaikannya dalam pertemuan koordinasi Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) Kota Yogyakarta yang berlangsung di Aula 1 Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta.

Dalam paparannya, Dr. Supriyati menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi dalam penanganan kesehatan jiwa di masyarakat. Ia menyampaikan bahwa meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental, tingginya stigma terhadap penderita, serta dominasi pendekatan kuratif dibandingkan promotif dan preventif masih menjadi tantangan utama. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya peran lintas sektor dalam menciptakan ekosistem kesehatan jiwa yang lebih baik, mulai dari upaya promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif.

Salah satu strategi yang diangkat dalam pertemuan ini adalah pemberdayaan masyarakat melalui inisiatif Kelurahan Siaga Sehat Jiwa dan Sekolah Sehat Jiwa yang telah diterapkan di Kota Yogyakarta. Program ini dinilai efektif dalam meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi berbagai permasalahan kesehatan mental, sekaligus mengurangi stigma terhadap gangguan kesehatan jiwa.

Selain membahas program pemberdayaan masyarakat, pertemuan ini juga mendiskusikan mekanisme kelembagaan dan koordinasi TPKJM, penguatan layanan kesehatan jiwa di fasilitas pelayanan kesehatan primer, serta strategi peningkatan akses layanan kesehatan mental bagi masyarakat.

Acara ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan pemerintah, rumah sakit, lembaga sosial, dan komunitas yang bergerak dalam isu kesehatan jiwa. Melalui sinergi lintas sektor yang semakin kuat, diharapkan implementasi Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 80 Tahun 2024 tentang Rencana Aksi Daerah Upaya Kesehatan Jiwa Tahun 2024-2028 dapat berjalan secara optimal.

Upaya kesehatan jiwa yang berbasis kolaborasi ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera yang menargetkan peningkatan kesehatan mental dan kesejahteraan. Dengan penguatan layanan kesehatan primer, peningkatan literasi masyarakat tentang kesehatan jiwa, serta pengurangan stigma terhadap gangguan mental, program ini berkontribusi pada pencapaian SDGs 3.4. Selain itu, sinergi lintas sektor dalam program ini juga mendukung SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dengan membangun jejaring kerja antara pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, dan sektor swasta guna mengatasi tantangan kesehatan jiwa secara efektif dan berkelanjutan.

Penulis : Zilfani Fuadiyah Haq dan Nanda Melania D.

Editor : Ari Prayogo Pribadi

Magister Kesehatan Masyarakat UGM Gelar Rapat dan Workshop Awal Tahun 2025

Yogyakarta, 23 Januari 2025 – Program Magister Kesehatan Masyarakat (MPH) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada mengawali tahun dengan kegiatan Rapat dan Workshop Awal Tahun 2025 yang diselenggarakan di Hotel Artotel Suites Bianti, Yogyakarta. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas akademik, memperkuat jaringan alumni, serta merumuskan strategi pengembangan program studi di masa mendatang.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Kepala Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM, Dr. dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan alumni dalam menciptakan ekosistem akademik yang lebih baik. “Masukan dari mahasiswa dan alumni sangat berharga dalam menyempurnakan kurikulum serta meningkatkan pengalaman belajar di Magister Kesehatan Masyarakat UGM,” ujar Dr. Mubasysyir.

Sesi Pagi: Sharing Session bersama Alumni dan Mahasiswa

Sesi pertama diisi dengan diskusi antara alumni dan mahasiswa dari berbagai peminatan dalam program MPH UGM. Diskusi ini menjadi wadah pertukaran pengalaman, baik dalam perkuliahan maupun dalam penerapan ilmu di dunia kerja. Para alumni berbagi wawasan mengenai tantangan dan peluang di sektor kesehatan masyarakat berdasarkan pengalaman nyata mereka dalam berbagai bidang, seperti kesehatan lingkungan, epidemiologi, gizi masyarakat, dan kebijakan kesehatan. Mereka membagikan strategi dalam menghadapi tantangan di dunia profesional, mulai dari keterampilan yang dibutuhkan hingga bagaimana menerapkan ilmu yang telah didapat selama perkuliahan dalam pekerjaan sehari-hari.

Sementara itu, mahasiswa aktif menyampaikan aspirasi mereka terkait pengembangan kurikulum dan metode pembelajaran. Beberapa mahasiswa mengusulkan adanya pendekatan pembelajaran yang lebih aplikatif dengan studi kasus nyata dan peningkatan keterlibatan praktisi di bidang kesehatan masyarakat dalam perkuliahan. Selain itu, mereka juga mengungkapkan harapan agar sistem evaluasi akademik lebih fleksibel dan mendukung pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri dan penelitian di bidang kesehatan masyarakat.

Sesi Sore: Arahan Akademik dan Strategi Pengembangan

Memasuki sesi kedua, kegiatan berlanjut dengan arahan akademik yang dipaparkan oleh Dr. dr. Mubasysir Hasanbasri, MA dan Bayu Satria Wiratama, S.Ked, MPH, Ph.D. Dalam sesi ini, dr. Mubasysir  menekankan pentingnya pembelajaran yang berbasis pada kebutuhan masyarakat serta peningkatan kualitas akademik melalui kurikulum yang dinamis dan berbasis riset. Selain itu, sesi ini juga menjadi kesempatan bagi para dosen untuk mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai arah kebijakan akademik yang akan diterapkan dalam tahun ajaran mendatang.

Salah satu poin utama dalam diskusi adalah pemaparan Timeline Akademik yang mencakup perencanaan semester, evaluasi capaian pembelajaran, serta strategi dalam mempercepat penyelesaian studi mahasiswa. Selain itu, pembahasan mengenai Target Capaian Kompetensi (TCK) Program Studi juga menjadi fokus utama, di mana berbagai masukan dari alumni dan mahasiswa turut dipertimbangkan untuk memastikan bahwa lulusan MPH UGM memiliki kompetensi yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan tantangan global di bidang kesehatan masyarakat.

Tak kalah penting, sesi ini juga mengulas strategi pemasaran program MPH UGM sebagai langkah konkret untuk menjaring lebih banyak calon mahasiswa berkualitas. Strategi ini mencakup peningkatan promosi melalui platform digital, penguatan jejaring dengan alumni, serta pengembangan kemitraan dengan institusi nasional dan internasional. Harapannya, dengan langkah-langkah yang lebih terstruktur, program Magister Kesehatan Masyarakat UGM dapat semakin dikenal luas dan menarik minat para profesional yang ingin melanjutkan studi di bidang kesehatan masyarakat.

Workshop ini menjadi agenda awal tahun yang krusial bagi Magister Kesehatan Masyarakat UGM dalam memastikan keberlanjutan program akademik yang inovatif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta kebutuhan masyarakat. Hasil dari diskusi dan masukan yang diperoleh dalam kegiatan ini diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat komunitas akademik, serta membangun ekosistem pembelajaran yang lebih inklusif dan kompetitif.

Dengan terlaksananya kegiatan ini, Magister Kesehatan Masyarakat UGM semakin optimis dalam menghadapi tantangan akademik dan profesional di bidang kesehatan masyarakat. Komitmen untuk mencetak lulusan yang kompeten, inovatif, dan berdampak bagi masyarakat luas terus menjadi prioritas utama, sejalan dengan visi UGM dalam berkontribusi bagi pembangunan kesehatan di tingkat nasional maupun global.

Penulis: Nanda Melania D.